Langsung ke konten utama

SOK TAU SOAL PSIKOLOGIS


Lagi emosian nih, jadi punya energi buat ngetik panjang. Jadi pemirsa, saya tuh sejak mulai make jilbab malah makin penasaran sama diri saya sendiri, saya suka nantang diri saya apakah saya bisa gak? Sama kayak pake jilbab ini bukan karena saya anak mushola atau ikut organisasi islam. Mau sendiri dan nantang diri sendiri, saya pun terinspirasi sama sahabat saya, tapi itu porsinya tidak banyak, karena yang buat saya konsisten adalah Allah, juga diri yang tidak berhenti penasaran sama diri sendiri, saya jadi bertanya-tanya yang mana karakter saya, mana yang bisa diubah, mana yang itu memang karakter bawaan, itu juga membuat saya belajar memahami orang lain, saya tidak menuntut kesempurnaan, karena karakter itu seuatu yang tidak bisa di generalisasi, yang ini baik dan itu buruk. karena sama saja,semua punya keduanya. Kalo kata psikolog kekurangan itu adalah kelebihan yang digunakan berlebihan,jadi hanya bagaimana seseorang menyadari dan punya kemampuan  menakar  dosis kelebihan dan kekurangan ini. juga tidak ada yang namanya ekstovert itu lebih baik atau sebaliknya karena itu hanya kecenderungan, tapi tidak bisa menjelaskan sampai detail soal bagaimana sosok orang tersebut, tergantung  latar belakang setiap orang dan itu pasti beda setiap orang, jadi kalo ketemu orang baru, kita seperti ketemu buku baru, secara keseluruhan dari luar hanya bisa dilihat tebal tipisnya buku, warna sampul, jenis kertas, bau kertas, tapi ada yang lebih mendalam pilihan huruf juga isi cerita dari buku itu, dibelakangnya lagi punya cerita terinspirasi dari apa sehingga bukunya isinya bisa sedemikian rupa.

Sehingga walaupun saya ketemu sama orang hebat saya tidak mudah kagum, itupun membuat saya tidak mudah kecewa  sama orang, tidak berlebihan, karena sesempurna apapun orang pasti punya celahnya. terus terusan menyadari bahwa kita hanya manusia biasa membuat kita tidak mudah menuntut orang lain buat sempurna, mau sudah hapal 30 juz kek, mau professor, mau prsiden, nabipun diberi kelemahan oleh Allah buat menjadi hikmah bagi umat selanjutnya, bukankah kita banyak belajar soal kisah nabi? Apakah hanya mukjizat yang diberi Allah? Tidak, pemberian itu sepaket, agar kita belajar soal kelapangan hati juga tidak menyandingkan kesempurnaan selain Allah. Apalagi manusia biasa, dijaman sekarang? Lebih baik itu perlu,tapi memahami dan punya hati yang lapang juga penting. Manusia itu terbatas sedang Allah lah tempat berlindung dari keterbatasan itu, yang jadi masalahnya adalah kalau punya kesombongan mengakui keterbatasan dan kehambaan sebagai ciptaan juga tidak mau belajar, sudah merasa puas, celana tua atas segala hal, berhenti mikir, tidak cukup rendah hati untuk menerima ilmu. 

Orang yang memahami tidak akan minta dan menuntut orang lain berubah secepat kilat, dia akan cari solusi untuk kompromi agar kedua belah pihak merasa sama sama nyaman, karakter bawaan itu tidak bisa dirubah, misalnya seorang yang sangat sensitive perasa, blakblakan to the point, introvert tidak bisa dipaksa ngomong terbuka , ekstrovert tidak bisa dipaksa diam, yang bisa diubah itu kebiasaan, misalnya suka nunda, malas, itu bisa diubah. Orang tidak akan mudah berubah selain dari dirinya, karena tidak ada orang bisa termotivasi tanpa ia sendiri yang membuka pintu megijinkan dirinya untuk termotivasi,saya percaya itu. orang tuanya saja yang sudah ngejaga dari bayi,ngerawat, ngasih sekolah,ngedidik, itu pasti ngerti anaknya yang satu beda sama lainnya, satunya pendiam yang satunya sangat periang suka ngobrol tidak ada capeknya dan tidak mungkin maksain anaknya agar sama persis. Lah kita siapa baru kenal kemarin tidak punya signifikansi apapun sama hidupnya seseorang, terus intervensi dia harus kayak gimana sesuai ego kita, mikir lagi deh kalo kamu benar-benar ikhlas sama dia, tidak  mungkin nyuruh berubah,kalau memahami sangat memungkinkan, juga ada cara komunikasinya yang baik gimana. 

Saya, sampe kiamatpun tidak bisa memaksakan seseorang yang emang memilih tertutup untuk bisa seterbuka saya bercerita saya harus memahami bahwa selain itu pilihannya,emang itu sudah sepaket saat dia lahir di dunia ini, saya ga mungkin mengubah orang yang teramat melankolis jadi super periang , kecuali mungkin ada kejadian yang bisa membuatnya berubah tapi itu semua tetap atas ijin pada dirinya sendiri untuk berubah mungkin karena keadaan atau hal lainnya, sama kayak saya itu uring uringan saya disuruh : jangan terlalu pemarah ndah, jangan terlalu cerewet semua di cerita, jangan kasar. Saya sempat ngerasa rendah diri karena sebenarnya saya sadar soal semuanya, soal suara saya yang kasar,suara saya intonasinya cenderung tinggi, saya teramat to the point dan masi banyak lagi sifat seorang koleris, saya merasa sangat buruk.merasa saya adalah yang terburuk diantara semuanya, butuh waktu untuk menerima diri saya sendiri.bahwa saya memang terlahir sepaket dengan sifat yang kuat, keras, realistis,punya kekuatan sebanyak itu hingga membuat saya terlihat gak santai dan seriusan haha. 

Saya benci saat diminta menjadi orang lain, karena saya telah bisa menerima diri saya, saya jadi ngerti orang lain, sehingga ekspektasi saya sama orang lebih bisa saya kendalikan,juga saya tidak nuntut sengotot dulu, karena saya pun tidak senang saat dituntut menjadi orang lain. Lebih menghargai kepribadian orang lain juga tidak menuntut kesempurnaan, penting buat kita aware soal psikologis kita, mengenal diri sendiri, menerima diri, agar juga bisa menerima dan kompromi sama orang, lebih bisa mengendalikan ego walau susah, yang penting kita sudah punya kesadaran ini.mungkin ini juga alasan seorang hafidz dan hafidzah bisa cerai, padahal soal iman dan pengamalan luar biasa, tapi tidak memahami soal psikologi mereka lalu tidak saling bicara dari hati kehati dan membicarakannya, tidak pernah terjadi, ya memang menikah itu harus punya visi jauh sampai akhirat,tapi saya percaya alasan Allah nyuruh kita menuntut ilmu karena lewat ilmu Allah sedang bicara memberi  petunjukNya, termasuk dalam ilmu psikologi. 

Jadi agama saja tidak cukup tapi akhlak tak kalah pentingnya, bukannya Allah juga bicara soal akhlak? Allah sedang bicara soal psikologi saat bicara soal akhlak.  Sesama dominan walau agama dan akhlak mereka baik, secara alamiah akan susah untuk bisa bersama. Apalagi ditambah dominannya tidak bisa komunikasi dengan baik, bisa rumit. Akhlak baik itu belum tentu bisa saling memahami secara alami, apalagi hanya pake cinta buta diawal,karena setelah cinta habis, kata psikolog yang tersisa hanyalah kejiwaan seseorang.bukan berarti tipe kepribadian ini buruk dan yang satu baik,semuanya sama punya porsi baik buruknya, hanya saja jika bersama dengan yang emang susah bersama secara alami ketahanan masing-masing akan beda. Begitulah saya percaya dan aware soal psikologi karena yah emang Allah aja sudah ngasih tau kalo akhlak itu penting, jadi marilah kita rendah hati untuk belajar lebih banyak lagi soal psikologi masing-masing.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG SAYA PIKIRKAN SOAL MENIKAH?

di umur dua puluhan topik yang paling teratas adalah nikah pastinya. seolah semua hal itu ujung-ujungnya menikah. saya sendiri sejujurnya belum ngerti kenapa harus menikah, sampe detik ini kehidupan menikah masih terlihat sangat sulit dan gak sebanding dengan hidup saya sekarang hingga saya mau menukar dengan kehidupan pernikahan. menikah adalah keputusan besar yang akan merubah seluruh hidup saya kedepannya, kalau hari ini ada masalah, itu hanya berhenti pada diri saya, sisa bagaimana saya memposisikan diri,otak dan perasaan saya sendiri, tapi menikah, kehidupan pernikahan bermasalah maka semua akan kena dampaknya, dan gak hanya butuh diri saya untuk memperbaiki keadaan,juga si dia, karena pernikahan adalah soal dua orang, belum lagi kalo saya punya anak,maka saya harus mutar otak agar masalah tidak berdampak sama anak, karena tentu saya berharap dan akan menyediakan jalan terbaik agar dia tumbuh dengan nilai nilai kehidupan yang akan mengawalnya sampai akhirat insya Allah.  ...

Menentukan Standar Kesederhanaan

Setelah umur dua puluhan barulah saya mengerti kenapa mama melarang saya berteman dengan anak-anak yang orang tuanya berada. apalagi selain karena mama takut saya akan mengadopsi standar dan pola hidup mereka, lalu saya akan minta ini itu dengan memaksa, padahal hidup keluarga saya adalah kehidupan yang sederhana. Alhamdulillahnya, yang di khawatirkan mama tidak terjadi, saya sangat survive sama keterbatasan, gak gengsian, jarang pilih pilih makanan kecuali yang haram,pahit banget,pedis banget hehe, gak milih milih teman yang kaya ada yang biasa aja juga banyak, tentu saya lebi cenderung pada yang sederhana dan biasa aja karena dari merekalah sangat banyak pelajaran yang saya dapatkan, tentang perjuangan tentang santai pada keterbatasan, tentang keyakinan soal rejeki, dan bahagia pada hal hal yang sederhana namun sarat makna, kederhanaan itu menenangkan sedang kekayaan itu melenakkan juga memanjakan tak banyak pertumbuhan yang terjadi bersama kekayaan selain rasa khawatir,hanya sebagi...

Gempa di palu dan empati kita

Palu adalah rumah kedua bagi saya,disana hati saya berlabuh menemukan kemandirian, menemukan jati diri,menemukan rumah kedua saya. Saya bisa membayangkan bencana itu dengan lebih nyata dibanding orang-orang yang belum pernah kesana atau jarang kesana dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan kota Palu, sahabat dan guru guru saya ada disana.   Dihari hari awal bencana, emosi saya sangat labil, semua   yang empatinya tidak tumbuh baik dalam diri sehingga masih bisa becanda soal bencana itu, semuanya saya marahi, saya berdebat. saya memang demikian, ada saatnya itu tidak baik tapi bagi saya yang masih bisa bisa becandakan hal itu sama saja becanda diatas kematian ribuan orang, tertawa diatas ribuan orang yang kelaparan. Sungguh miris hati ini mendapati kenyataan berada di tengah tengah orang yang kering hatinya, juga toxic banget. apakah saya harus menyalahkan   orang tuanya yang tidak mengajarkan empati,memahami orang lain, memahami dan menempatkan diri kita pada posisi...