Langsung ke konten utama

Menentukan Standar Kesederhanaan

Setelah umur dua puluhan barulah saya mengerti kenapa mama melarang saya berteman dengan anak-anak yang orang tuanya berada. apalagi selain karena mama takut saya akan mengadopsi standar dan pola hidup mereka, lalu saya akan minta ini itu dengan memaksa, padahal hidup keluarga saya adalah kehidupan yang sederhana. Alhamdulillahnya, yang di khawatirkan mama tidak terjadi, saya sangat survive sama keterbatasan, gak gengsian, jarang pilih pilih makanan kecuali yang haram,pahit banget,pedis banget hehe, gak milih milih teman yang kaya ada yang biasa aja juga banyak, tentu saya lebi cenderung pada yang sederhana dan biasa aja karena dari merekalah sangat banyak pelajaran yang saya dapatkan, tentang perjuangan tentang santai pada keterbatasan, tentang keyakinan soal rejeki, dan bahagia pada hal hal yang sederhana namun sarat makna, kederhanaan itu menenangkan sedang kekayaan itu melenakkan juga memanjakan tak banyak pertumbuhan yang terjadi bersama kekayaan selain rasa khawatir,hanya sebagian kecil orang orang yang menyadari bahwa kekayaan hanyalah alat bukan tujuan.

saya jadi ingat teman saya dalam becandanya kemarin bilang " uang 100 ribu tidak berarti buat inda", saya tidak marah mendengarnya,hanya tidak setuju aja, yah karena mungkin dia gak tau aja hidup saya gimana.dia tidak tau betapa saya menghargai uang,bukan uangnya tapi kerja keras mendapatkannya. Papa saya meninggal saat saya kelas 3 SMP,mama harus berjuang sendirian ngasi makan dan nyekolahin 6 anaknya. saya menyaksikan kesusahan mama, saya merasakan bagaimana kehidupan kami banyak berubah setelah papa meinggal. Waktu kuliah saya tinggal di asrama, saya pernah sebulan penuh hanya makan telur ceplok doang, hanya untuk berhemat, waktu jalan sama teman saya sempat marah sama dia karena beli minuman seharga 35ribu yang rasanya biasa saja di tempat dan pelayanannya juga gak sebanding, saya tidak pernah mau nonton film horor di bioskop  karena buat saya takut yang berbayar itu gak masuk akal. uang jajan saya waktu SMA berapa? 5ribu doang cuma cukup buat naik ojek, biasa kalau tidak punya uang saya jalan kaki berkilo kilo dari rumah saya yang jauh dari sekolah. bagaimana bisa saya tidak menghargai uang?

sekarang saya punya motor dan nyicilnya masih jalan, apa segampang itu kedengarannya? bahkan motor itu ada karena modal nekat sama yakin Allah bantu, binatang saja makan, apalagi manusia, yang tidak berakal saja punya rejeki apalagi yang berakal yhaaakan. orang tuh gak akan liat kita cape sering nguap karena kerja, orang hanya liat saat kita punya hape baru, motor baru, terus seenak mulutnya bilang kita enak blablabla, padahla kita udah jatuh bangun usahanya, tapi tetap aja orang orang yang suka perhatikan hidup orang ini lihatnya hanya hasilnya. yakali uang gak turun dari langit gois. kekayaan itu memang bukan tujuan, dan kita bisa bermanfaat gak harus nunggu kaya dulu, tapi kalau saya ingin taat sekaligus menggunakan hasil keringat saya untuk taat dan bermanfaat sebanyak banyaknya. saya pikir itu tidak jadi masalah, selama saya ingat tujuan saya apa, juga sekuat tenaga tidak menaikkan standar kehidupan saya. itu yang menjadi tantangan saya saat ini, dunia dengan segala perhiasannya, perempuan yang juga adalah perhiasan dunia bagaimana mungkin tidak tertarik juga pada perhiasan , hal yang berusaha saya sadari adalah saya adalah sebaik baiknya perhiasan. jadi saya tidak perlu perhiasan lain yang berlebihan, kesadaran ini yang akan menekan godaan standar hidup yang begitu halus merasuki otak.melihat segalanya dari fungsinya juga kebutuhan, bukan keinginan dan kalap mata, apalagi karena gengsi.

semoga berapapun penghasilan saya nanti, 100 ribu akan selalu berarti kalau itu hasil keringat saya sendiri, juga dikeluarkan dengan manfaat dan nilai yang sebanding: buat keluarga,buat sosial/ membantu yang layak dibantu, bukan untuk aktifitas  hedon yang kurang makna.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG SAYA PIKIRKAN SOAL MENIKAH?

di umur dua puluhan topik yang paling teratas adalah nikah pastinya. seolah semua hal itu ujung-ujungnya menikah. saya sendiri sejujurnya belum ngerti kenapa harus menikah, sampe detik ini kehidupan menikah masih terlihat sangat sulit dan gak sebanding dengan hidup saya sekarang hingga saya mau menukar dengan kehidupan pernikahan. menikah adalah keputusan besar yang akan merubah seluruh hidup saya kedepannya, kalau hari ini ada masalah, itu hanya berhenti pada diri saya, sisa bagaimana saya memposisikan diri,otak dan perasaan saya sendiri, tapi menikah, kehidupan pernikahan bermasalah maka semua akan kena dampaknya, dan gak hanya butuh diri saya untuk memperbaiki keadaan,juga si dia, karena pernikahan adalah soal dua orang, belum lagi kalo saya punya anak,maka saya harus mutar otak agar masalah tidak berdampak sama anak, karena tentu saya berharap dan akan menyediakan jalan terbaik agar dia tumbuh dengan nilai nilai kehidupan yang akan mengawalnya sampai akhirat insya Allah.  ...

Gempa di palu dan empati kita

Palu adalah rumah kedua bagi saya,disana hati saya berlabuh menemukan kemandirian, menemukan jati diri,menemukan rumah kedua saya. Saya bisa membayangkan bencana itu dengan lebih nyata dibanding orang-orang yang belum pernah kesana atau jarang kesana dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan kota Palu, sahabat dan guru guru saya ada disana.   Dihari hari awal bencana, emosi saya sangat labil, semua   yang empatinya tidak tumbuh baik dalam diri sehingga masih bisa becanda soal bencana itu, semuanya saya marahi, saya berdebat. saya memang demikian, ada saatnya itu tidak baik tapi bagi saya yang masih bisa bisa becandakan hal itu sama saja becanda diatas kematian ribuan orang, tertawa diatas ribuan orang yang kelaparan. Sungguh miris hati ini mendapati kenyataan berada di tengah tengah orang yang kering hatinya, juga toxic banget. apakah saya harus menyalahkan   orang tuanya yang tidak mengajarkan empati,memahami orang lain, memahami dan menempatkan diri kita pada posisi...