Langsung ke konten utama

Gempa di palu dan empati kita


Palu adalah rumah kedua bagi saya,disana hati saya berlabuh menemukan kemandirian, menemukan jati diri,menemukan rumah kedua saya. Saya bisa membayangkan bencana itu dengan lebih nyata dibanding orang-orang yang belum pernah kesana atau jarang kesana dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan kota Palu, sahabat dan guru guru saya ada disana.  Dihari hari awal bencana, emosi saya sangat labil, semua  yang empatinya tidak tumbuh baik dalam diri sehingga masih bisa becanda soal bencana itu, semuanya saya marahi, saya berdebat. saya memang demikian, ada saatnya itu tidak baik tapi bagi saya yang masih bisa bisa becandakan hal itu sama saja becanda diatas kematian ribuan orang, tertawa diatas ribuan orang yang kelaparan. Sungguh miris hati ini mendapati kenyataan berada di tengah tengah orang yang kering hatinya, juga toxic banget. apakah saya harus menyalahkan  orang tuanya yang tidak mengajarkan empati,memahami orang lain, memahami dan menempatkan diri kita pada posisi orang lain bagaimanapun susahnya, karena kita tidak berada disana ditempat gempa bumi dan tsunami terjadi.
Tidak ada jaminan kita tidak akan mengalami bencana yang serupa jadi tidak alasan bagi kita untuk merasa aman dan merasa punya kekuatan mengendalikan alam, sampe bisa membuat lelucon soal gempa dan tsunami. Apalagi dihari hari hari pertama. Sungguh? Begitu mentalmu sebagai manusia? Bahkan ada yang bilang begini kemarin “hidup ini jangan dibuat sulit, kita sudah ditakdirkan mati seperti ini dan seperti itu (sambil ngasih contoh)” saya langsung nyambar dong, kamu tau yang ngomong ini orang tua, sungguh miris, apakah jika anakmu yang didalam lumpur sana belum ditemukan apakah kamu akan berhenti berdoa dan bilang “ya hidup ini sudah sulit, itu memang takdirnya”.ke anakmu? Gitu? Yakin?.  
Kira kira seminggu sebelumnya, saya selalu kirim pesan ke adik saya jika terjadi gempa,karena saya tau adik saya itu seperti apa, dia harus selalu diingatkan untuk waspada, seminggu sebelumnya gempa terjadi dua kali dalam skala kecil karena memang di palu kita selalu ada gempa kecil sampai kita merasa terbiasa, dalam setahun selalu ada gempa, tapi bagi saya gempa selalu menimbulkan reaksi yang sama, yaitu panik dan lari keluar rumah, tidak ada satupun gempa di palu yang saya anggap sepele, karena saya pernah mengalaminya di tahun 2000, mungkin trauma itu masih melekat kuat di alam bawah sadar saya, sampai waktu saya sudah kerja di kantor lalu gempa dan bos saya bilang “jangan panik, jangan lari”  dan tau apa yang saya lakukan? Itu pertama kalinya saya ngebantah dia. Bisa-bisanya dia menyepelekan, okeh mungkin setiap kejadian bisa punya alasan keilmuannya masing masing, tapi bagaimanakah dia bisa mendahului Allah yang menggenggam dunia ini, sampe nyuruh kita santai. Apakah anda sedang bercanda bos?
Jika kita tidak bisa berada disana untuk meringankan derita mereka, pantaskah kita bercanda diatas derita mereka? Mungkin ada yang bilang “itu cara mereka menghibur diri” serius? Di hari ketiga bencana? Apakah kita pernah mengecek informasi yang kita dapat di dunia maya? Apakah yakin lelucon itu berasal dari bencana palu? Saya mencoba memahami karena mereka tidak berada dalam grup WA yang isinya adalah orang-orang Palu, yang isinya adalah relawan yang setiap hari selalu ada berita korban hilang, pengungsian yang kelaparan belum mendapat bantuan, meninggal karena kelaparan, ada korban luka luka yang infeksi, ada bayi yang lapar, ada yang masih terisolir di desanya belum dapat bantuan bahkan hingga hari kedelapan. Bercandaan yang di posting di dunia maya soal baju bantuan yang kebanyakan adalah baju perempuan, bukanlah kesimpulan mereka sudah baik baik saja dan tercukupi, jika keluarga kita selamat, bukan berarti kita bisa sedini itu bercanda dan menyebarkan sesuka  hati di sosial media, hari ini posting berduka tapi beberapa menit kemudian posting makanan, sungguh? Bahkan saya baru bisa foto-foto setelah hari ke 7, itupun karena ketemu kahfi (anak kecil umur dua tahun). Otak saya masih kacau, bahkan saat orang orang sudah belajar untuk ujian cpns, otak saya masih kacau dan susah fokus, di hari sabtu minggu lalu saat jaringan hilang akibat gempa di Palu, saya jam 6 pagi ke kantor cari wifi,  agar bisa terhubung dengan saudara saya di palu, mengingat asrama tempat adik saya tinggal bangunannya sudah sangat tua, dan setelah saya mau  pulang, ada yang bertanya apakah saya sudah selesai urus berkas cpns,padahal dia tau saya ke kantor sepagi itu buat tau kabar saudara saya, hampir saya mau telan orang yang bertanya itu, sungguh? Disaat Allah sedang menguji kita, kita masih saja sempatnya bertanya soal dunia? Saat itu juga? Kenapa kau tidak dikirim Allah ke tsunami saja he? Biar kau masih bisa bertanya cpns saat di gulung ombak laut atau ombak lumpur. Apalagi yang menggunakan bencana sebagai guyon politik, sungguh belajarlah berempati dan jadi manusia yang baper pada hal hal yang seharusnya. Doakan dan doakan, postinglah hal hal positif, bukan hoax politik yang menggunakan bencana, bukan guyon politik yang menggunakan bencana sebagai kontennya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

APA YANG SAYA PIKIRKAN SOAL MENIKAH?

di umur dua puluhan topik yang paling teratas adalah nikah pastinya. seolah semua hal itu ujung-ujungnya menikah. saya sendiri sejujurnya belum ngerti kenapa harus menikah, sampe detik ini kehidupan menikah masih terlihat sangat sulit dan gak sebanding dengan hidup saya sekarang hingga saya mau menukar dengan kehidupan pernikahan. menikah adalah keputusan besar yang akan merubah seluruh hidup saya kedepannya, kalau hari ini ada masalah, itu hanya berhenti pada diri saya, sisa bagaimana saya memposisikan diri,otak dan perasaan saya sendiri, tapi menikah, kehidupan pernikahan bermasalah maka semua akan kena dampaknya, dan gak hanya butuh diri saya untuk memperbaiki keadaan,juga si dia, karena pernikahan adalah soal dua orang, belum lagi kalo saya punya anak,maka saya harus mutar otak agar masalah tidak berdampak sama anak, karena tentu saya berharap dan akan menyediakan jalan terbaik agar dia tumbuh dengan nilai nilai kehidupan yang akan mengawalnya sampai akhirat insya Allah.  ...

Menentukan Standar Kesederhanaan

Setelah umur dua puluhan barulah saya mengerti kenapa mama melarang saya berteman dengan anak-anak yang orang tuanya berada. apalagi selain karena mama takut saya akan mengadopsi standar dan pola hidup mereka, lalu saya akan minta ini itu dengan memaksa, padahal hidup keluarga saya adalah kehidupan yang sederhana. Alhamdulillahnya, yang di khawatirkan mama tidak terjadi, saya sangat survive sama keterbatasan, gak gengsian, jarang pilih pilih makanan kecuali yang haram,pahit banget,pedis banget hehe, gak milih milih teman yang kaya ada yang biasa aja juga banyak, tentu saya lebi cenderung pada yang sederhana dan biasa aja karena dari merekalah sangat banyak pelajaran yang saya dapatkan, tentang perjuangan tentang santai pada keterbatasan, tentang keyakinan soal rejeki, dan bahagia pada hal hal yang sederhana namun sarat makna, kederhanaan itu menenangkan sedang kekayaan itu melenakkan juga memanjakan tak banyak pertumbuhan yang terjadi bersama kekayaan selain rasa khawatir,hanya sebagi...