Langsung ke konten utama

APA YANG SAYA PIKIRKAN SOAL MENIKAH?

di umur dua puluhan topik yang paling teratas adalah nikah pastinya. seolah semua hal itu ujung-ujungnya menikah.

saya sendiri sejujurnya belum ngerti kenapa harus menikah, sampe detik ini kehidupan menikah masih terlihat sangat sulit dan gak sebanding dengan hidup saya sekarang hingga saya mau menukar dengan kehidupan pernikahan. menikah adalah keputusan besar yang akan merubah seluruh hidup saya kedepannya, kalau hari ini ada masalah, itu hanya berhenti pada diri saya, sisa bagaimana saya memposisikan diri,otak dan perasaan saya sendiri, tapi menikah, kehidupan pernikahan bermasalah maka semua akan kena dampaknya, dan gak hanya butuh diri saya untuk memperbaiki keadaan,juga si dia, karena pernikahan adalah soal dua orang, belum lagi kalo saya punya anak,maka saya harus mutar otak agar masalah tidak berdampak sama anak, karena tentu saya berharap dan akan menyediakan jalan terbaik agar dia tumbuh dengan nilai nilai kehidupan yang akan mengawalnya sampai akhirat insya Allah. 

Sampe detik ini saya tidak tau kenapa saya harus menikah, menjadi taat pada orang dikenal belum lama dan tidak mempunyai signifikansi dalam hidup saya adalah hal sangat sulit untuk saya terima, jika saya taat pada papa sy adalah hal yang setimpal papalah alasan kenapa saya masih bernapas sampe detik ini, saya masih sangat ingat papa sabar temani saya tidur, temani ke WC, kasih makan,kasih sekolah, kasih tempat tidur,kasi pakaiaan yang layak, mama yang berkorban karirnya demi kita, yang seorang diri menyekolahkan anak anaknya sampe sarjana semua, jika saya berbakti pada keduanya itu setimpal, bahkan diganjar pahala.kenapa sy harus menukar hidup saya yang bahagia ini untuk berbakti pada orang lain yang tidak punya signifikansi dalam hidup saya juga tidak ada jaminan dia akan selamanya setia. Pada suami, saya tidak melihat ketaatan saya  bisa setimpal dengan posisi dia sebagai suami. Harus taat pada orang yang tidak ada jaminan besok dia bisa aja meninggalkan kita, dan kita harus stres dengan itu? Ah kenapa harus begitu. Kenapa saya harus menaruh diri saya pada suatu hubungan jangka panjang sangat panjang yang saya tak tau masa depan seperti apa yang akan datang menguji hubungan itu, kenapa saya harus menambah masalah, kalau menikah itu adalah jalan tol ketemu Allah, tetap aja dijalan tol itu ada hambatannya, setengah agama itu kan tidak terwujud gitu aja, kalau akhlak dalam menjalaninya buruk, kita jadikan jalan tol ke neraka juga bisa, kenapa saya harus menikah padahal sendiri atau berdua itu sama sama punya konsekuensi yang sama untuk berdosa ataupun berpahala. penikahan masih gak apple to apple, pindah dari taat sama papa ke suami itu teramat meragukan. kalo muslimah lain nagih kepastian dengan pernikahan, saya malah mikir pernikahan adalah ketidakpastian panjang yang sangat beresiko.saya belum melihat pernikahan itu sebuah karunia dari Allah, tapi saya tidak membencinya.Saya hanya berdoa semoga saya berjodoh sama seseorang  yg layak untuk saya taati. Dan pernikahan itu memang bisa jadi jalan tol ketemu Allah.

saya akan menikah jika saya sudah siap memberi dan paham soal pengorbanan yang membahagiakan itu seperti apa, saya paham keterikatan yang membahagiakan itu seperti apa, saya belum siap memberi yang terbaik bagi suami saya, karena yang paling tau jelek jeleknya diri ini yah saya sendiri. saya takut pernikahan bukan mendatangkan pahala malah dosa, juga sepertinya saya sangat takut dikendalikan oleh rasa cinta saya nantinya pada suami saya dan anak anak saya nanti. kebenaran menjadi buram karena cinta dunia, saya takut berada dalam hubungan yang beracun dan saya tidak bisa keluar karena cinta saya pada dunia,pada suami saya, saya takut dibutakan cinta saya pada anak saya nanti hingga saya tidak punya kemampuan  mencintai dia dengan lebih baik yaitu dengan medidiknya dengan kesederhanaan dan nilai nilai baik dalam hidup. apa yang ada di kenyataan membuat saya bertanya adakah orang yang bisa menerima dan bersabar dengan begitu banyak kekurangan ini hingga hari terakhir saya di dunia? bisakah saya menekan ego saya? bisakah saya menerima orang baru dalam hidup saya untuk selamanya? taat padanya dengan karakter pembangkang ini....puuuuftttttt, saya ragu pada diri saya sendiri dan saya ragu masih ada laki laki yang memahami hakikat menikah, menafkahi, mengasuh,merawat, saya ragu ada sosok yang paham bahwa menikah itu membangun peradaban kecil bernama keluarga, melahirkan generasi yang jauh dari kesampahan dunia ini, bukan secara teori tapi mau terlibat dalam pengasuhan secara langsung, sekaligus sabar sama istrinya yang banyak ngeyelnya ini,hihi. 

rasanya di umur segini, cinta itu bukan lagi soal romantika perasaan, yah mungkin kita memang butuh kecenderungan fisik atau emosional, saya sendiri liat yang ganteng yah tetap saja bilangnya iya ganteng. tapi sampai disitu saja, karena rumah tangga itu tidak cukup hanya pakai cinta, bahkan orang yang keliatannya stabil keimanannya di ukur dari hafidznya, bisa cerai, baik agamanya itu tidak hanya soal berapa surah yang dihapal atau jidatnya sudah hitam apa belum, lebih dari itu, bagaimana sudut pandang dia soal kehidupan, keluarga, cinta, dan yang terpenting sudut pandang dia soal bagaimana seharusnya kita beragama.  kata teman, saya sangat ribet soal jodoh, yah pada dasarnya saya berusaha berprasangka baik apapun yang Allah beri, tapi gak ada salahnya kalau kita berdoa yang terbaik dan mengusahakannya. akan ribet di awal, jadi siapapun kamu siap-siaplah kita akan diskusi panjang soal keluarga seperti apa yg akan kita bangun, pola asuh, keuangan keluarga, soal kerjaan, soal keluarga masing-masing, soal kebermanfaatan kita di masyarakat, dan tentu soal akhirat.haha

suami ideal?

yah yang pasti tidak ada yang sempurna di dunia. tapi saya berharap punya suami yang lebih kuat keinginan dan muamalah untuk taat daripada saya,sevisi misi, pekerja keras, dewasa, humoris, sederhana, tidak merokok apalagi "ba minum",kalau bisa sih orang banggai tapi kalau bukan juga tidak masalah, kalau bisa lebih tua umurnya dua tiga tahun diatas saya, sopan, cara bicaranya bagaimana, apakah kasar? apa suka cerita tinggi? dll, juga bisa di ajak diskusi soal apapun, juga lebih tenang pastinya haha tidak harus kalem, yang penting tau berkomunikasi dengan baik (bicara pada waktunya, mendegarkan dengan baik, solutif buka berdebat). fisik? yang menenangkan jika dipandang eaa relatif dan subjektif sih rapih dan bersih  itu penting, ganteng itu kalau baik caranya memperlakukan sikapnya nanti akan jadi terganteng in the world wkwkwk. saya sangat tidak setuju sama laki laki yang berharap pernikahan itu membuat dia di urus sama istrinya, bagi saya rumah tanggga itu adalah tim, kita saling ngurus, saya akan melaksanakan tugas yang tidak akan mungkin dikerjakan sama suami saya yaitu mengandung,melahirkan,menyusui. selebihnya seluruh aktifitas yang lain, kita bisa kerja bersama sama dan tentu harus banyak SALING kompromi, bukan hanya salah satu yah, keduanya harus SALING ngasi effort sama hubungan jangka panjang ini. apa yg dilakukan suami saya, saya bisa lakukan,apa yg saya lakukan bisa suami saya lakukan, yaitu mengasuh anak, masak, bersih bersih, nyetrika, nyuci,dan lain lain. saya ingin tetap kerja dan beraktifitas di komunitas, saya ingin tetap produktif walau saya telah menikah, saya ingin jadi istri dan ibu yang baik juga tetap bermanfaat di lingkungan sekitar, bukan jadi orang terkenal tapi setidaknya saya masih punya kontribusi di masyarakat walau skala komplek sekalipun. makanya saat ini saya ingin menghabiskan seluruh waktu saya dengan komunitas, aktifitas produktif, juga keluarga,karena setelah menikah mungkin porsinya akan berkurang. saya ingin bisa bertumbuh bersama suami saya, belajar memberikan yang terbaik sebisanya tanpa punya keterikatan melebihi keterikatan saya pada Allah.  

semakin banyak saya baca dan nonton ceramah soal menikah, saya semakin menyadari betapa jauh saya dari niat yang lurus untuk menikah beserta persiapannya, dan tiba-tiba saya sudah 25 tahun saja, kemarin kemana aja ndah?bagi saya umur berapapun tidak ada yang terlalu cepat atau terlambat selama mental kita siap sama dunia pernikahan. kalau mau ikut otak aneh gue, saya sungguh percaya diri tanpa menikah kalaupun takdirNya kayak gitu, tapi berhubung saya percaya Allah dan Rasulullah saya menerima menikah itu adalah hal yang baik, mungkin saya terlalu skeptis sama orang lain bisa berubah jadi lebih baik karena tentu tidak ada orang yag bisa berubah dalam satu malam juga pernikahan bukan ikatan yang akan menyulap seseorang jadi baik tanpa perjuangan, yang berubah hanyalah status bukan karakter dan pola pikir seseorang. mungkin karena melihat sekeliling begitu banyak laki laki yang hidup sekedar hidup tanpa tujuan, lalu bagaimana saya bisa menaruh hidup saya dalam derita baru bersama seseorang yang tak tahu hidupnya buat apa akan kemana, yang mikir kalo nikah hanya untuk menghalalkan hubungan biologis doang dan yasudah, ya Allah jauhkan bala.

Setengah agama itu tidak tercapai begitu saja. jika akhlak dalam menjalaninya justru jauh dari islam, yang tadinya mau dapat pahala eh malah dapat dosa. sendiri atau berdua, sama-sama punya peluang untuk berpahala atau malah berdosa.

semoga suami saya adalah sosok yang bersabar terhadap kekurangan yang sangat banyak ini, juga saya bisa bersabar dan tau makna seorang istri itu kayak apa. yah intinya kenapa saya belum menikah karena saya belum dipertemukan saja sama dia, mungkin saat ini kita sama sama belum siap menurut Allah. belum lurus niatnya. saya masih belum paham menikah karena Allah itu bagaimana persisnya. karena kalau saya menemui masalah saya mungkin akan berpikiran "ini pasti karena sy sudah menikah" saya tidak ingin menyesalinya, sy ingin punya kesadaran bahwa inilah jalan tol ke surga yang saya pilih untuk bertemu Allah, masalah ini berbuah pahala karena hubungan ini halal dan ini tidak sia sia, kesulitan apapun di dalamnya diganjar pahala jika kita mengikuti akhlak terbaik yang di contohkan Rasulullah dalam berumah tangga.

semoga saya bertemu orang yang bisa membuat saya bernyanyi"cermin sikapmu yang mampu meredam rasa ke-akuanku memahami cinta"  ea hahaha, ini lagunya anang-kd, betewe ku jadi paham kekecewaan anang, lagu ini tuh dalem banget maknanya menurut saya haha judulnya "makin aku cinta".

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menentukan Standar Kesederhanaan

Setelah umur dua puluhan barulah saya mengerti kenapa mama melarang saya berteman dengan anak-anak yang orang tuanya berada. apalagi selain karena mama takut saya akan mengadopsi standar dan pola hidup mereka, lalu saya akan minta ini itu dengan memaksa, padahal hidup keluarga saya adalah kehidupan yang sederhana. Alhamdulillahnya, yang di khawatirkan mama tidak terjadi, saya sangat survive sama keterbatasan, gak gengsian, jarang pilih pilih makanan kecuali yang haram,pahit banget,pedis banget hehe, gak milih milih teman yang kaya ada yang biasa aja juga banyak, tentu saya lebi cenderung pada yang sederhana dan biasa aja karena dari merekalah sangat banyak pelajaran yang saya dapatkan, tentang perjuangan tentang santai pada keterbatasan, tentang keyakinan soal rejeki, dan bahagia pada hal hal yang sederhana namun sarat makna, kederhanaan itu menenangkan sedang kekayaan itu melenakkan juga memanjakan tak banyak pertumbuhan yang terjadi bersama kekayaan selain rasa khawatir,hanya sebagi...

Gempa di palu dan empati kita

Palu adalah rumah kedua bagi saya,disana hati saya berlabuh menemukan kemandirian, menemukan jati diri,menemukan rumah kedua saya. Saya bisa membayangkan bencana itu dengan lebih nyata dibanding orang-orang yang belum pernah kesana atau jarang kesana dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan kota Palu, sahabat dan guru guru saya ada disana.   Dihari hari awal bencana, emosi saya sangat labil, semua   yang empatinya tidak tumbuh baik dalam diri sehingga masih bisa becanda soal bencana itu, semuanya saya marahi, saya berdebat. saya memang demikian, ada saatnya itu tidak baik tapi bagi saya yang masih bisa bisa becandakan hal itu sama saja becanda diatas kematian ribuan orang, tertawa diatas ribuan orang yang kelaparan. Sungguh miris hati ini mendapati kenyataan berada di tengah tengah orang yang kering hatinya, juga toxic banget. apakah saya harus menyalahkan   orang tuanya yang tidak mengajarkan empati,memahami orang lain, memahami dan menempatkan diri kita pada posisi...