Langsung ke konten utama

Postingan

Gempa di palu dan empati kita

Palu adalah rumah kedua bagi saya,disana hati saya berlabuh menemukan kemandirian, menemukan jati diri,menemukan rumah kedua saya. Saya bisa membayangkan bencana itu dengan lebih nyata dibanding orang-orang yang belum pernah kesana atau jarang kesana dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan kota Palu, sahabat dan guru guru saya ada disana.   Dihari hari awal bencana, emosi saya sangat labil, semua   yang empatinya tidak tumbuh baik dalam diri sehingga masih bisa becanda soal bencana itu, semuanya saya marahi, saya berdebat. saya memang demikian, ada saatnya itu tidak baik tapi bagi saya yang masih bisa bisa becandakan hal itu sama saja becanda diatas kematian ribuan orang, tertawa diatas ribuan orang yang kelaparan. Sungguh miris hati ini mendapati kenyataan berada di tengah tengah orang yang kering hatinya, juga toxic banget. apakah saya harus menyalahkan   orang tuanya yang tidak mengajarkan empati,memahami orang lain, memahami dan menempatkan diri kita pada posisi...
Postingan terbaru

Hamba

Aku adalah musafir Tau tujuan, sekaligus tak tau jarak jalan untuk sampai tujuan. “Jalani saja” katamu. Itu sangat tepat untuk kehidupan ini. Jika bisa ku putar waktu, aku akan kembali pada kesepakatanku dengan Allah Soal kesanggupanku berjalan dalam duniaNya. Tak ada jalan tengah, selain semangat dan mengingat janji Allah. Rasa penasaran kian menipis Seiring kesadaran kehambaan ini. Kesadaran hidup adalah rahasia sekaligus kesadaran   bahwa Allah memberi yang terbaik, Membungkam rasa ingin mendahului Allah. Menikmati perjuangan melawan diri Sekaligus menerima.

SOK TAU SOAL PSIKOLOGIS

Lagi emosian nih, jadi punya energi buat ngetik panjang. Jadi pemirsa, saya tuh sejak mulai make jilbab malah makin penasaran sama diri saya sendiri, saya suka nantang diri saya apakah saya bisa gak? Sama kayak pake jilbab ini bukan karena saya anak mushola atau ikut organisasi islam. Mau sendiri dan nantang diri sendiri, saya pun terinspirasi sama sahabat saya, tapi itu porsinya tidak banyak, karena yang buat saya konsisten adalah Allah, juga diri yang tidak berhenti penasaran sama diri sendiri, saya jadi bertanya-tanya yang mana karakter saya, mana yang bisa diubah, mana yang itu memang karakter bawaan, itu juga membuat saya belajar memahami orang lain, saya tidak menuntut kesempurnaan, karena karakter itu seuatu yang tidak bisa di generalisasi, yang ini baik dan itu buruk. karena sama saja,semua punya keduanya. Kalo kata psikolog kekurangan itu adalah kelebihan yang digunakan berlebihan,jadi hanya bagaimana seseorang menyadari dan punya kemampuan   menakar   dosis kelebih...

APA YANG SAYA PIKIRKAN SOAL MENIKAH?

di umur dua puluhan topik yang paling teratas adalah nikah pastinya. seolah semua hal itu ujung-ujungnya menikah. saya sendiri sejujurnya belum ngerti kenapa harus menikah, sampe detik ini kehidupan menikah masih terlihat sangat sulit dan gak sebanding dengan hidup saya sekarang hingga saya mau menukar dengan kehidupan pernikahan. menikah adalah keputusan besar yang akan merubah seluruh hidup saya kedepannya, kalau hari ini ada masalah, itu hanya berhenti pada diri saya, sisa bagaimana saya memposisikan diri,otak dan perasaan saya sendiri, tapi menikah, kehidupan pernikahan bermasalah maka semua akan kena dampaknya, dan gak hanya butuh diri saya untuk memperbaiki keadaan,juga si dia, karena pernikahan adalah soal dua orang, belum lagi kalo saya punya anak,maka saya harus mutar otak agar masalah tidak berdampak sama anak, karena tentu saya berharap dan akan menyediakan jalan terbaik agar dia tumbuh dengan nilai nilai kehidupan yang akan mengawalnya sampai akhirat insya Allah.  ...

Menentukan Standar Kesederhanaan

Setelah umur dua puluhan barulah saya mengerti kenapa mama melarang saya berteman dengan anak-anak yang orang tuanya berada. apalagi selain karena mama takut saya akan mengadopsi standar dan pola hidup mereka, lalu saya akan minta ini itu dengan memaksa, padahal hidup keluarga saya adalah kehidupan yang sederhana. Alhamdulillahnya, yang di khawatirkan mama tidak terjadi, saya sangat survive sama keterbatasan, gak gengsian, jarang pilih pilih makanan kecuali yang haram,pahit banget,pedis banget hehe, gak milih milih teman yang kaya ada yang biasa aja juga banyak, tentu saya lebi cenderung pada yang sederhana dan biasa aja karena dari merekalah sangat banyak pelajaran yang saya dapatkan, tentang perjuangan tentang santai pada keterbatasan, tentang keyakinan soal rejeki, dan bahagia pada hal hal yang sederhana namun sarat makna, kederhanaan itu menenangkan sedang kekayaan itu melenakkan juga memanjakan tak banyak pertumbuhan yang terjadi bersama kekayaan selain rasa khawatir,hanya sebagi...