Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Gempa di palu dan empati kita

Palu adalah rumah kedua bagi saya,disana hati saya berlabuh menemukan kemandirian, menemukan jati diri,menemukan rumah kedua saya. Saya bisa membayangkan bencana itu dengan lebih nyata dibanding orang-orang yang belum pernah kesana atau jarang kesana dan tidak mempunyai ikatan emosional dengan kota Palu, sahabat dan guru guru saya ada disana.   Dihari hari awal bencana, emosi saya sangat labil, semua   yang empatinya tidak tumbuh baik dalam diri sehingga masih bisa becanda soal bencana itu, semuanya saya marahi, saya berdebat. saya memang demikian, ada saatnya itu tidak baik tapi bagi saya yang masih bisa bisa becandakan hal itu sama saja becanda diatas kematian ribuan orang, tertawa diatas ribuan orang yang kelaparan. Sungguh miris hati ini mendapati kenyataan berada di tengah tengah orang yang kering hatinya, juga toxic banget. apakah saya harus menyalahkan   orang tuanya yang tidak mengajarkan empati,memahami orang lain, memahami dan menempatkan diri kita pada posisi...